search-icon
Articles
Pandangan Agama Budha Terhadap Penggunaan Sosial Media - Seminar Agama-Agama, Media dan Politik
share

Pandangan Agama Budha terhadap Penggunaan Sosial Media yang Sehat dalam
Menjaga Persaudaraan Sejati demi Memperkuat Bangsa dan Negara

Oleh: Bhikkhu Santacitto

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Sosial media tidak bisa dipungkiri sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun demikian, keberadaan sosial media yang senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan teknologi memberikan dua sisi, baik positif maupun negatif. Secara positif, sekarang masyarakat bisa mengakses berbagai informasi bermanfaat dengan mudah, bisa saling tukar informasi. Bahkan signifikansi sosial media juga merambah ke dalam bidang lain, baik politik, ekonomi maupun agama, dalam konteks yang positif. Namun demikian, di sisi lain, sosial media juga telah digunakan oleh tidak sedikit orang yang tidak bertanggungjawab untuk memecah belah masyarakat yang sudah bersatu. Media sosial dijadikan alat untuk saling menghujat, mencela, merendahkan dan bahkan saling membunuh.

Kita sering mendengar ungkapan, mulutmu adalah harimaumu, yang artinya ucapan yang tidak terkendali dapat menghancurkan si pembicara dan juga lingkungan sekitar. Saat sosial media masih hanya fokus dengan ucapan yang keluar langsung dari mulut, dampak yang ditimbulkan hanya berpengaruh terhadap orang-orang yang secara langsung mendengar ucapan yang terucap. Namun sekarang ini, dengan adanya teknologi dan berkembangnya sosial media seperti facebook, Instagram, whatsapp, dan semacamnya, ide, gagasan atau pesan terunggah di media sosial dalam bentuk tulisan atau video tersebut memberikan dampak yang sifatnya lebih masif. Ketika sebuah pesan diunggah di sosial media demikian, dalam hitungan detik, banyak orang langsung dapat melihat dan membacanya. Dampaknya akan semakin besar jika yang mengunggahnya adalah seorang public figure dengan ribuan atau jutaan followers.

Melihat fenomena ini, kita sadar bahwa jika pesan yang diunggah adalah hal-hal yang menciptakan kedamaian, persatuan, kerukunan, cintakasih, pesan ini pun memberikan dampak yang besar dan luas. Sebaliknya, jika yang diunggah adalah hal-hal yang berdasarkan kebencian dan kekerasan, dampak negatifnya juga besar. Untuk itu, seseorang yang cinta dengan persatuan, kedamaian, dan kerukunan, hanya akan menggunakan sosial media untuk menciptakan hal-hal demikian. Kita harus hati-hati menggunakan sosial media. Apabila konten dari hal yang diunggah bersifat buruk, walaupun kita sudah menghapus dari akun kita, ketika sudah diunggah dan dibaca apalagi di-share oleh orang lain, pesan tersebut sulit untuk lenyap.

Buddha dalam salah satu khotbahnya mengatakan, Purisassa hi jatassa kuthari jayate mukhe, yaya chindati attanam balo dubbhasitam bhanam - Manusia dilahirkan dengan kapak di mulutnya, di mana seorang bodoh memotong dirinya dengan kata-kata yang buruk. Tentu kapak bisa digunakan untuk kebaikan dan juga untuk keburukan. Demikian pula, ucapan juga bisa bermanfaat dan juga bisa tidak bermanfaat, tergantung pada kontennya. Oleh sebab itu, Buddha dan tentunya semua orang yang bijak selalu menganjurkan manusia untuk berhati-hati dalam berucap. Dalam konteks kekinian, seseorang hendaknya berhati-hati dalam menggunakan sosial media.

Sangat disayangkan beberapa masyarakat di Indonesia saat ini belum mampu menggunakan sosial media dengan bijak. Salah satu fenomena yang sering kita temui di sosial media saat ini di Indonesia adalah ada satu kubu yang menyebut kubu lain dengan sebutan kaum cebong, sedangkan kubu yang disebut kaum cebong membalas dengan sebutan kaum kampret. Tindakan tersebut sangatlah tidak wise. Harga manusia disamakan dengan binatang. Mungkin seseorang berpikir bahwa dengan melakukan hal tersebut, seseorang telah memuliakan kelompok atau kubunya. Akan tetapi, tindakan yang tidak bijak ini justru semakin memperkeruh suasana, semakin memperburuk citra kelompoknya yang dibanggakan. Citra dirinya pun semakin buruk, karena kata-kata yang dikeluarkan merupakan cermin dari isi hatinya. Membalas ujaran kebencian dengan kebencian tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi justru semakin menciptakan kebencian pada pihak lain.

Pesan bersifat hujatan kebencian tidak akan pernah berakhir dengan membalasnya dengan hujatan. Buddha menyebutkan dalam khotbahnya, Na hi verena ca verani sammantidha kudacanam; averena ca sammanti, esa dhammo sanantano-Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian; tetapi kebencian akan berakhir dengan cinta kasih, inilah hukum yang abadi. Hukum alam yang tertuang dalam pernyataan Buddha ini tidak hanya berlaku pada orang tertentu atau masyarakat tertentu saj, tetapi kepada siapapun. Oleh sebab itu, apabila kita cinta dengan kedamaian, keharmonisan dan kerukunan, tidak sepatutnya kita membalas kebencian dengan kebencian, tetapi balaslah dengan cinta kasih.

Nasehat Buddha untuk mereka yang mencintai persatuan dan kesatuan adalah samagga sammodamana avivadamana khirodaklbhuta annamannam piyacakkhuhi sampassanta viharatha. Artinya, Hiduplah dengan persatuan, saling berbahagia, bebas dari pertengkaran, bercampur seperti susu dan air, dan melihat satu sama lain dengan pandangan penuh kasih. Di sini, tindakan, ucapan dan pikiran yang dilandasi cintakasih sangatlah penting. Meneladani ucapan Buddha ini, seseorang hendaknya menggunakan sosial media hanya berdasarkan pada cintakasih. Persaudaraan sejati antar manusia tanpa memandang suku, agama, ras atau golongan, akan terjadi apabila masing-masing orang melihat satu sama lain dengan cinta kasih, memperlakukan dengan cinta kasih.

Lantas bagaimana sikap kita dalam menanggapi sosial media yang ada? Hal paling mendasar yang hendaknya setiap manusia memilikinya adalah bahwa kita sebagai manusia hendaknya hidup di tengah-tengah masyarakat hanya demi kebahagiaan, kesejahteraan dan manfaat bagi banyak orang. Hal ini tertuang dalam nasehat Buddha kepada para siswa beliau, Bahujanasukhaya bahujanahitaya bahujana-atthaya lokanukampaya yang artinya Demi kasih sayang, hiduplah demi kebahagiaan orang banyak, kesejahteraan orang banyak dan manfaat orang banyak. Apabila prinsip ini kokoh mengakar dalam sanubari, seseorang akan bertindak melalui perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran demi kebahagiaan orang lain. Terkait dengan penggunaan sosial media pun, orang demikian tidak akan gegabah mengunggah ke sosial media hal-hal yang tidak berguna. Ia akan melihat apakah yang akan diunggah tersebut memberikan manfaat ataukah tidak. Orang demikian tidak akan mungkin mengunggah hal-hal yang nantinya berdampak pada perpecahan masyarakat.

Dalam hal ini, pesan yang diberikan oleh Buddha penting untuk dipertimbangkan. Dalam khotbah-khotbahnya, beliau selalu mengatakan bahwa dirinya hanya akan mengucapkan kata- kata yang faktual, benar, dan yang terpenting bermanfaat. Walaupun kata-kata itu faktual dan benar, tetapi jika tidak bermanfaat, beliau tidak akan berbicara. Pesan ini memberikan nasehat kepada kita bahwa hanya pembicaraan yang bermanfaat saja yang hendaknya dibicarakan. Penggunaan sosial media juga hendaknya dilakukan secara sama. Walaupun sebuah pesan merupakan kejadian yang nyata dan benar, tetapi jika setelah dipertimbangkan diketahui bahwa pesan tersebut bisa menciptakan hal-hal yang tidak baik seperti perpecahan, pertengkaran atau konflik, hendaknya tidak perlu diungkapkan.

Dalam kesempatan lain, dikatakan bahwa seorang bijaksana selalu mengucapkan kata- kata dengan empat faktor di dalamnya, yakni subhasitam bhasati, dhammam bhasati, piyam bhasati dan saccam bhasati. Subhasitam bhasati adalah mengucapkan kata-kata yang tidak merendahkan atau menghina orang lain. Dhammam bhasati adalah mengucapkan kata-kata yang berguna dan bermanfaat. Piyam bhasati adalah mengucapkan kata-kata yang dilandasi cintakasih. Saccam bhasati adalah mengucapkan kata-kata yang benar, bukan kebohongan. Inilah juga yang melandasi bahwasanya Buddha memberikan latihan kemoralan kepada para pengikutnya untuk melatih diri menghindari empat macam ucapan, yakni bohong (musavada), fitnah (pisunavaca), kata-kata kasar (pharusavaca) dan kata-kata tidak bermanfaat (samphappalapa).

Pertanyaan mungkin muncul bahwa ada kalanya mereka yang mengunggah ujaran kebencian atau pesan hoax di sosial media bukanlah yang tanpa pendidikan atau bukan tanpa agama. Terkadang mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, beragama dan berpengaruh di masyarakat. Bukankah mereka sadar bahwa tindakan mereka itu tidak benar, tindakan mereka menentang ajaran agama yang mereka anut? Mengapa mereka masih melakukan hal-hal yang merugikan banyak orang demikian? Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki dua hal yakni hiri dan ottappa. Hiri adalah malu berbuat jahat, sedangkan ottappa adalah takut akan dampak dari perbuatan jahat. Walaupun seseorang mengaku beragama, apabila dua kualitas batin ini tidak dikembangkan dalam dirinya, kejahatan akan dilakukan. Perlu dicatat bahwa seseorang akan betul-betul mampu melaksanakan aturan-aturan kemoralan yang menghindari kejahatan ucapan dan perbuatan jasmani apabila dua kualitas batin ini ada dalam dirinya.

Lebih lanjut, segala bentuk kejahatan termasuk kejahatan yang dilakukan di sosial media disebabkan karena tiga hal sebagai akarnya, yakni keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan (moha). Karena keserakahan terhadap harta benda, popularitas atau kesenangan inderawi lainnya, seseorang bisa melakukan kejahatan, termasuk kejahatan melalui penggunaan sosial media. Demikian pula, kebencian beserta anak cucunya yakni marah, dendam, iri hati, cemburu, dll juga menjadi penyebab munculnya perbuatan-perbuatan buruk. Sementara itu, kebodohan sebagai penyebab kejahatan adalah ketidaktahuan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat, mana yang sepatutnya ditinggalkan dan mana yang sepatutnya dikembangkan. Sebagai contoh, seringkali kita menemukan bagaimana atas nama agama seseorang bisa melakukan kejahatan. Salah satu penyebabnya adalah sebuah kemelekatan yang mengatakan bahwa Hanya ajaran inilah yang benar sedangkan yang lain salah. Dalam agama Buddha pandangan demikian bermula dari ketidaktahuan (moha) bahwa melekat erat-erat bahkan terhadap pandangan tertentu juga merupakan sebab konflik. Ini terjadi di mana-mana. Banyak ujaran kebencian atas nama agama karena disebabkan orang yang mengaku dirinya beragama demikian hanya melihat bahwa agamanya saja yang ada kebenaran. Mereka tidak membuka diri bahwa kebaikan juga ada di dalam agama-agama lain. Berdasarkan pada hal ini, seseorang hendaknya berupaya untuk melenyapkan lobha, dosa dan moha.

Berdasarkan pada pembahasan di atas, kita hendaknya menanggapi pesan-pesan yang ada di sosial media dengan bijaksana. Sebelum kita mengunggah pesan sendiri atau sharing pesan orang lain, kita hendaknya melihat dari manfaat dan kerugian yang bisa ditimbulkan dari pesan tersebut. Jika diketahui bahwa pesannya memberikan kerugian, lebih baik tidak diunggah. Tetapi jika pesannya menebarkan persatuan, kedamaian dan keharmonisan, bisa kita unggah. Untuk hal ini, jika ada pesan dari orang lain, sebaiknya di check dan recheck kebenarannya. Setelah di­recheck kebenarannya, manfaatnya pun hendaknya dipertimbangkan. Walaupun benar apabila tidak ada manfaatnya, itupun tidak perlu diunggah.

Lebih lanjut, dalam menanggapi pesan-pesan yang berisi ujaran kebencian, seseorang hendaknya selalu bersikap tenang, tidak perlu terpancing, karena membalasnya dengan kebenciaan saat pikiran terpancing, hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Tenangkan pikiran, lenyapkan kebencian, dan barulah membalasnya dengan kata-kata yang bijak yang membawa kepada kedamaian dan keharmonisan.

Penggunaan sosial media secara sehat demikian seperti yang dibahas di atas akan membawa kepada persatuan, keharmonisan dan persaudaran sejati bagi masyarakat Indonesia tanpa memandang suku, ras, agama atau golongan. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat, tidak mudah pecah, tidak mudah diadu domba oleh orang-orang yang menginginkan perpecahan bagi NKRI.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia