search-icon
Articles
Study Alkitab Tematis
share

Berawal dengan Paskah

kemudian Spiritualitasnya

 

J.B. Banawiratma

 

Bagi jemaat kristen awal satu-satunya perayaan iman yang besar adalah perayaan Paskah. Pera­yaan lain belum ada. Bagaimana perkembangan selanjutnya? Untuk memahami hal itu berikut ini akan diuraikan secara singkat: (1) makna salib dan kebangkitan Yesus, (2) spiritualitas saksi, (3) masa Paskah dalam keseluruhan tahun liturgi, (4) dan sekarang kita akan memasuki masa pra Paskah, yang dimulai pada hari Rabu Abu.

 

1.       Salib dan Kebangkitan Yesus

 

Yesus dibunuh di kayu salib karena alasan agama dan alasan politik. Alasan agama, Yesus sebagai penghojat Allah; dan alasan politik, Yesus sebagai pemberontak. HidupYesus,apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan tidak sesuai dengan praktek agama waktu itu. Yesus me­langgar hukum agama. Yesus menyampaikan pengmpunan dosa. Yesus menyapa Allah sebagai Abba, Bapa yang penuh keibuan. Dengan demikian Yesus menempatkan diri sebagai Anak Allah Bapa, menyetarakan diri dengan Allah.

Yesus dibunuh karena alasan politik juga. Yesus memberitakan Kerajaan Allah sebagai kabar gembira kepada kaum miskin, Yesus menyembuhkan yang sakit, yang tidak utuh, yang tersi­sihkan. Pada situasi penjajahan oleh kekaisaran Roma Yesus berada pada pihak kaum miskin dan tersisih yang mengalami penindasan. Horseley (2008:227-228) menggam­barkan Ye­sus seba­gai berikut.

“Yesus dan para pengikutnya menanggapi kondisi ke­kaisaran Roma yang makin lama makin opresif, tidak dengan cara lain kecuali dengan menang­karkan pem­baharuan ma­sya­rakat Israel dalam komunitas-komuntas dusun. Gambaran repre­sentatif mengenai Yesus yang seringkali didasarkan pada Injil Markus dan Injil-injil lain adalah Yesus sebagai guru sendirian menu­ju salib sebagai martir sendi­rian. Berbeda dengan itu, kami me­li­hat gam­bar Yesus yang ter­tanam dalam hu­bungan-hu­bungan sosial yang berakar dalam tra­disi Israel. Studi komparatif de­ngan gerakan-gerakan rakyat be­serta pe­mimpin-pemimpin mereka membuat kita mampu un­tuk menegas­kan dua hal, yakni resistensi melalui tutur­an lisan memori kolektif (“hid­den transcript” vs “pub­lic trans­cript”) yang terpelihara secara intensif, dan apa yang berkem­bang dari situ, yaitu konfrontasi tegas Ye­sus berha­dapan de­ngan pengua­sa-penguasa Yerusalem dan penguasa Roma, yang meng­akibatkan dia di­bunuh se­ba­gai pe­mimpin pem­berontakan.”

Sebagaimana Musa dan Elia, Yesus muncul sebagai nabi yang memimpin pembaharuan umat Israel yang hidup dalam memori kolektif rakyat tertindas.  Se­perti para nabi ia ber­konfrontasi de­ngan penguasa-penguasa yang opresif. Yesus me­mimpin para pengikutnya ke Yerusalem tepat pada pesta Paskah, perayaan pembebasan Israel dari pe­ngu­asa asing.

                Yesus dipersalahkan oleh penguasa agama tertinggi dan penguasa politik. Tidak ada seorangpun bisa membela. Mereka benar dan Yesus salah. Satu-satunya yang bisa membela ada­­lah Allah. Allah membenarkan Yesus dengan membangkitkan Yesus dari kematian salib. Yesus benar. Benar bahwa Yesus berada pada pihak yang miskis dan tertindas, benar bahwa Yesus menyampaikan pengampunan dosa, benar bahwa Yesus menyapa Allah, Abba. Para murid ber­jumpa dengan Yesus yang sudah dibangkitkan oleh Allah, Yesus yang hidup. Mereka dijumpai Yesus melalui penampakan-penampakan. Itulah bukti kebangkitan Yesus bagi mereka. Makam kosong meneguhkan apa yang sudah mereka alami, yakni bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit, yang hidup.             

2.       Spiritualitas Saksi

 

Hadiah Paskah pertama dan utama adalah Roh Kudus, kehadiran Bapa dan Yesus dalam rupa Roh, daya kekuatan Allah sendiri yang menggerakkan hidup para murid Yesus sebagai saksi iman Paskah. “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).

Dalam Roh Kudus murid-murid Yesus berseru “Kyrios, Gusti Yesus”. Dalam Roh itu pula murid-murid Yesus menyapa “Allah Abba, Bapa pe­nuh keibuan”. Dari kesaksian Alkitab kita kenal spiritualitas atau jalan hidup dan cara bertindak yang Trinitaris itu, yakni hidup dan tindakan yang digerakkan oleh Roh Kudus, menempuh jalan Yesus, kepada Bapa. Roh Kudus itu hadir dan bekerja dalam Gereja, teta­pi tidak da­­pat diba­tasi oleh Ge­­reja. Angin (Roh, pneuma) “bertiup kemana ia mau” (Yoh 3:8). Oleh karena itu para murid Kristus juga wajib mene­mukan kehadiran dan karya Roh Kudus di luar Gereja. Roh Kudus meng­ge­rak­kan murid-murid Kristus menuju kesa­tuan dengan hidup dan tugas peng­utusan Yesus da­lam dunia sekarang ini.

Spiritualitas Trinitaris dalam hidup kristiani berlandaskan pada kesaksian Alkitab. Roh Kudus, yang juga disebut Roh Kristus, ada­lah satu dan sama dengan Roh Allah, yang hadir dalam manusia dan dunia. Mengikuti gam­baran Irenaeus, kita dapat mengatakan, bahwa Allah bekerja ”melalui dua tangan-Nya”, yakni melalui Firman dan melalui Roh. Firman Allah, yang menjilma menjadi ma­nusia Yesus, hadir, menyapa serta bertindak di tengah-tengah umat Yahudi sampai tahun 30-an. Peristiwa itu tidak meng­hentikan karya Allah.  Bapa dan Yesus tetap hadir dalam rupa Roh, di mana-mana dan kapan saja. Orang-orang kristen awal sampai sekarang ini, yang mengimani Yesus sebagai Firman Allah, juga menyebut Roh Allah itu Roh Yesus Kristus.

Roh Allah yang satu dan sama merupakan kehadiran Allah penuh daya kekuatan dalam karya penciptaan, dalam sejarah iman Israel, dan dalam hidup Yesus. Roh Allah yang satu dan sama yang juga disebut Roh Kristus sekarang ini hadir dalam manusia dan dunia. Jemaat kristen sekarang ini merupakan persekutuan murid-murid Kristus sejauh mengikuti gerakan Roh Kudus berusaha hidup dengan menempuh Jalan Yesus, dan dengan demikian berada dalam kesatuan dengan Allah Bapa.

Spiritualitas dapat digambarkan sebagai jalan hidup dan bertindak dari subjek yang penuh kesadaran (a way of proceeding of mindful subject) secara personal dan komunal dalam me­respons pengalaman tersentuh oleh Yang Ilahi dan alam, oleh sesama dan benda-benda, oleh ke­nyataan hidup konkrit yang dihadapinya. Kekhususan spiritualitas kristen adalah cirinya yang Trinitaris. Spiritualitas kris­ten merupakan jalan hidup dan bertindak Trinitaris, yaitu secara personal dan komunal (a) memelihara kepekaan untuk membeda­kan mana dorongan Roh Kudus, mana dorongan lain; Roh Kudus bekerja dalam diri kita, di tengah-te­ngah jemaat dan di tengah-tengah dunia, (b) berada dalam kesa­tuan dengan Yesus sebagai instansi kritis: yang bertentangan dengan Yesus tidak dapat diterima, (c) mene­rima kekua­saan Allah Bapa yang penuh keibuan sebagai yang me­nentukan, bukan kekuasan-ke­kua­saan lain.

 3.  Masa Paskah dalam Keseluruhan Tahun Liturgi

 

            Perayaan Paskah mengenang peristiwa Yesus yang dibangkitkan oleh Allah dari kema­tian di kayu salib karena dibunuh oleh para penguasa aga­ma dan penguasa politik. Bagi jemaat kristen awal itulah satu-satunya perayaan iman yang besar,  perayaan lain belum ada. Saat dari perayaan itu mengikuti tradisi Paskah Yahudi, yakni pada bulan purnama pertama setelah musim semi tiba.

Mengingat pentingnya perayaan Paskah itu maka kemudian dipersiapkan dengan 24 jam puasa. Persiapan perayaan Paska itu selanjutnya berkembang menjadi 36 jam puasa, dan akhir­nya menjadi 6 minggu masa praPas­kah, yang dimulai dengan hari Rabu Abu. Maksud masa prapaskah (dahulu disebut masa puasa) adalah untuk menghayati kesatuan dengan misteri hidup Yesus yang menderita sengsara sampai wafat di kayu salib dan misteri kebangkitan-Nya dari kematian di salib itu, yang dirayakan pada Minggu Paskah.

Masa Paskah merupakan masa antara Minggu Paskah sampai Pentakosta. Perayaan Pentakosta, 50 hari sesudah Pas­kah diambil dari tradisi Yahudi juga, yakni pada bulan purnama sesudah buah panen gandum pertama. Pentakosta merayakan anugerah buah pertama dan utama dari Paskah, yakni Roh Kudus, wujud kehadiran Yesus bersama Bapa.

Kemudian dalam sejarah iman Kristen perayaan besar lain muncul, yakni perayaan Natal untuk merayakan kelahiran Yesus. Perayaan Natal pada tgl. 25 De­sember sesuai dengan tradisi Romawi prakristen, ketika mereka merayakan Dewa Matahari yang tak terkalahkan (Sol Invictus). Setelah musim dingin yang panjang dengan malam panjang dan hampir tidak ada matahari, tibalah saatnya matahari bergerak ke Utara. Perayaan Natal dipersiapkan dengan masa Adven. Dalam bentuk sekarang ini seluruh tahun liturgi disusun mulai dengan masa Adven yang mempersiapkan perayaan Natal, perayaan Paskah dipersiapkan dengn masa praPaskah dan ditu­tup dengan perayaan Pentakosta. Selebihnya disebut Minggu biasa yanag ditutup dengan pera­yaan Kristus Raja semesta alam, lalu masuk masa Adven lagi.

Adven.  Kata Latin Adventus berarti “kedatangan”. Liturgi masa Adven mempersiapkan pera­yaan untuk mengenang kedatangan Yesus yang dilahirkan di Betlehem. Sekaligus juga menantikan kedatanganNya kembali dalam kemulian pada akhir zaman. Suasana masa Adven adalah suasana penuh pengharapan.

Masa Natal. Masa Natal merupakan masa untuk mensyukuri kelahiran Yesus Juru­selamat yang datang dari Allah. Masa Natal meliputi perayaan hari kelahiran Yesus, diteruskan dengan perayaan Keluarga Kudus (Yesus, Maria, Yusuf) pada hari Minggu sesudah Natal,  perayaan Epifani (penampakan kepada 3 orang Majus) pada tgl. 6 Januari atau Minggu sesudah 1 Januari.

Prapaskah. Liturgi masa Prapaskah mempersiapkan perayaan pokok iman Kristen yakni salib dan kebangkitan Yesus. Pada Minggu Palma dibacakan kisah masuknya Yesus ke Yerusalem.

Triduum Paskah. Tridum Paskah meliputi hari Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah dan Minggu Paskah. Kamis Putih mengenang perjamuan terakhir Yesus dengan para murid. Jumat Agung mengenang wafat Yesus di kayu salib. Vigili Paskah dan Minggu Paskah mera­yakan kebangkitan Yesus dari kematin salib.

            Minggu biasa. Liturgi masa biasa mengenang peristiwa-peristiwa hidup Yesus yang mempunyai kepedulian tunggal Kerajaan Allah. Seluruh hidup Yesus, tindakan dan kata-kataNya memaklumkan Kerajaan Allah itu, yakni kuasa pemerintahan Allah yang penuh bela rasa. Minggu biasa adalah Minggu-minggu di luar masa-masa khusus di atas, terdiri dari 34 minggu mulai dengan minggu sesudah pembaptisan Yesus, disela dengan masa Prapaskah, masa Paskah sampai hari Pentakosta. Minggu biasa berakhir pada Minggu 34, dengan merayakan pesta Kristus Raja Semesta Alam.

 4.      Sekarang ini: Akan Masuk Masa Pra Paskah Yang Dimulai Hari Rabu Abu

 Masa Prapaskah mempersiapkan perayaan pokok iman Kristen yakni salib dan kebang­kitan Yesus. Pada Minggu Palma dibacakan kisah masuknya Yesus ke Yerusalem. Tekanan pada masa prapaskah tampak pada liturgi hari Rabu Abu. Sambil menerimakan abu diucapkan: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” (Dahulu dipakai ucapan: Ingatlah manusia kamu debu dan akan kemali menjadi debu). Bertobat berarti menyongsong Injil yang diberitakan Yesus, yakni Injil Kerajaan Allah, yang dihidupi oleh Yesus sendiri.

            Masa prapaskah merupakan masa untuk memusatkan hidup pada hidup Yesus dengan latihan-latihan rohani. Ignasius dari Loyola mewariskan buku kecil, Latihan Rohani. Buku ini bukanlah bahan bacaan, melainkan petunjuk untuk dijalankan. Secara sederhana Ignasius menjelaskan latihan rohani sebgai berikut.

“Yang dimaksud dengan kata latihan rohani ialah: setiap cara memeriksa hati, meditasi, kontemplasi, doa lisan dan batin, serta segala kegiatan rohani lainnya … Sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh, dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa-lekat tak teratur, dan selepasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata …” (LR no. 1)

Dalam kotbah di bukit Yesus menyebut 3 macam latihan rohani yang sudah biasa dilakukan umat beriman Ibrani, yakni doa, puasa, dan sedekah. Hanya saja Yesus mengajarkan bagaimana hal-hal itu seharusnya dijalankan dengan baik.

Latihan rohani sunguh-sungguh, puasa misalnya,  akan tampak dalamkehidupan nyata sebagaimana dikatakan nabi Yesaya.

“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu ke­laliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang ter­aniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyem­bunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu” (Yesaya  58:6-8)

Puasa yang sungguh-sungguh akan kelihatan dalam kehidupamn sehari-hari yang semakin mengikuti dan meniru Yesus.