search-icon
Articles
Pembinaan Presbiter dan Pasangannya
share

Spriritualitas Roti dan Anggur

Komisi PPSDI dan PPK GPIB Jemaat Marga Mulya Yogyakarta menggelar Pembinaan bagi Presbiter dan pasangannya bertema "Spiritualitas Roti dan Anggur" dengan pembicara Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF. Ph.D dosen Fakultas Teologi UKDW Yogyakarta dihadiri 64 orang peserta pada Sabtu (22/10/2019) bertempat di Gedung Gereja Marga Mulya Yogyakarta.

Pujian KJ 234 "Kau Mutiara Hatiku" yang dinyanyikan oleh Ibu Rut Salomo sebagai nyanyian pembukaan mengawali kegiatan pembinaan ini.  Dilanjutkan dengan sambutan dan doa oleh Dkn. Marthen Lere Dawa Ketua III PHMJ.

Pdt. Stefanus menjelaskan tema pembinaan dalam 2 sessi yakni sessi pertama Spiritualitas Roti dan sessi kedua Spiritualitas Anggur.  Dalam sessi pertama, Pdt Stefanus menyitir pendapat Henri J.M. Nouwen dalam bukunya "Life of the Beloved" dengan menjelaskan makna simbolik spiritualitas roti Perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya, dalam 4 tindakan, yakni : diambil, diberkati, dipecah dan dibagikan.  Bahwa diharapkan para presbiter dapat memahami makna simbolik ini dalam kehidupan pelayanannya.  Penjelasan makna diambil adalah presbiter adalah pribadi yang unik dan dikasihi maka keterpilihan sebagai presbiter harus berterima kasih ada peran Ilahi dalam keterpilihannya sehingga harus melayani dan terus bertumbuh dalam kasih dan menghasilkan buah yang berkualitas.  Makna diberkati membuat presbiter mampu mendengarkan dan saling memberi berkat.  Makna dipecah mengajar presbiter untuk siap dibina, dimurnikan dan dimatangkan untuk menjadi berkat bagi sesama.  Sedangkan makna dibagikan berarti kesediaan presbiter memberi diri/memberikan hidup untuk melayani dalam kegembiraan bathin dengan kesadaran bahwa hidup adalah anugerah yang paling besar yang Allah berikan bagi manusia.

Pada sessi kedua, Pdt. Stefanus masih menyitir pendapat Henri J.M. Nouwen melalui bukunya "Can You Drink the Cup" bagaimana inspirasi dari kontemplasinya tentang cawan, yakni : memegang, mengangkat dan meminum.  Makna memegang cawan kehidupan harus dilihat secara kritis oleh presbiter.  Isi cawan kehidupan tak hanya berisi penderitaan namun juga berisi sukacita karena keduanya saling berangkulan.  Makna mengangkat cawan mengajak orang lain untuk merayakan kehidupan bersama saling menopang dan meneguhkan dimana presbiter hadir sebagai teladan.  Selanjutnya, makna meminum cawan keselamatan berarti mengosongkan cawan penderitaan dan sukacita sehingga Allah dapat mengisinya dengan kehidupan yang murni.  Baik makna dari spiritualitas roti maupun spiritualitas anggur mengajak dan menguatkan presbiter untuk meningkatkan spiritualitas mencinta dan melayani dalam kehidupan pribadi dan berjemaat.

Peserta pembinaan memberi respon dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pembicara.  Pembinaan berakhir pada pukul 13.00 WIB.